Kemenag Gelar Forum Akademik Internasional Bahas Krisis Gaza Dan Upaya Perdamaian

Selasa, 18 November 2025

    Bagikan:
Penulis: Bakhtiar Hadi
Forum akademik ini menjadi wadah strategis untuk merumuskan rekomendasi berbasis keilmuan yang dapat dijadikan rujukan oleh para pemangku kepentingan global. Pendekatan akademik dianggap penting untuk memberikan analisis yang mendalam dan objektif, jauh dari kepentingan politik praktis.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap perdamaian global, Kementerian Agama Republik Indonesia mengambil inisiatif menyelenggarakan forum akademik internasional. Forum ini secara khusus membahas krisis kemanusiaan yang melanda Gaza dan upaya-upaya strategis menciptakan perdamaian dunia. Pertemuan ini menghadirkan para akademisi, pakar hubungan internasional, dan pemikir dari berbagai latar belakang budaya dan kepercayaan. Tujuannya adalah untuk merumuskan rekomendasi berbasis akademik yang dapat dijadikan rujukan oleh para pemangku kepentingan global. Inisiatif ini menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai dan dialogis.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kamaruddin Amin, menyatakan bahwa forum ini merupakan wadah untuk mendialongkan persoalan Gaza dengan pendekatan keilmuan. Pendekatan akademik dianggap penting untuk memberikan analisis yang mendalam, objektif, dan jauh dari kepentingan politik praktis. Melalui dialog semacam ini, berbagai perspektif dapat dipertemukan untuk memahami akar masalah dan dampaknya terhadap tatanan perdamaian global. Kemenag percaya bahwa solusi berkelanjutan hanya dapat lahir dari analisis yang komprehensif dan inklusif. Partisipasi aktif dari cendekiawan internasional menunjukkan keprihatinan bersama atas situasi yang terjadi.

Forum tersebut membahas berbagai dimensi konflik, mulai dari aspek kemanusiaan, hukum internasional, hingga peran masyarakat global dalam menekan eskalsasi kekerasan. Para peserta sepakat bahwa krisis di Gaza telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak. Pembahasan juga menyoroti kegagalan mekanisme perdamaian internasional yang ada dalam memberikan perlindungan yang memadai. Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat mendorong komunitas internasional untuk mengambil langkah-langkah yang lebih konkret dan efektif. Solidaritas kemanusiaan menjadi tema sentral yang mengemuka dalam setiap sesi diskusi.

Selain membahas konflik Gaza, forum ini juga mendiskusikan kontribusi nyata dari diplomasi track two dalam membangun perdamaian. Peran serta akademisi dan lembaga think tank dinilai sangat krusial dalam menciptakan jalur komunikasi non-formal antara pihak-pihak yang bertikai. Pengalaman Indonesia dalam menyelesaikan konflik secara damai dan membangun masyarakat yang majemuk turut dibagikan sebagai contoh praktis. Pertukaran pengetahuan semacam ini diharapkan dapat menginspirasi model resolusi konflik di kawasan lain. Kemenag berkomitmen untuk terus memfasilitasi dialog semacam ini sebagai bagian dari soft diplomacy Indonesia.

Ke depan, rekomendasi dari forum akademik internasional ini akan didiseminasikan kepada berbagai pihak, termasuk organisasi internasional seperti PBB dan OKI. Kemenag akan terus melakukan advokasi berdasarkan hasil-hasil diskusi akademik yang telah dirumuskan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya strategis Indonesia untuk tetap aktif dalam percaturan perdamaian dunia, meski tidak terlibat secara langsung dalam konflik. Komitmen Indonesia untuk perdamaian global tidak hanya diwujudkan melalui politik luar negeri yang bebas aktif, tetapi juga melalui kontribusi pemikiran dan keilmuan. Forum ini diharapkan menjadi trigger bagi diselenggarakannya pertemuan-pertemuan serupa di tingkat yang lebih luas.

Inisiatif Kemenag ini mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan, baik di dalam maupun luar negeri. Forum akademik internasional dinilai sebagai langkah progresif yang dapat membuka jalan baru menuju perdamaian di Gaza. Pendekatan yang berbasis pada nilai-nilai kemanusiaan dan keilmuan diharapkan dapat mengurangi bias dan sentiment negatif yang selama ini menghambat proses perdamaian. Kemenag bertekad untuk melanjutkan peran ini sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan konstribusi Indonesia bagi perdamaian dunia. Upaya ini sejalan dengan amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.

(Bakhtiar Hadi)

Baca Juga: Harmony Award 2025: Kemenag Apresiasi FKUB Dan Pemda Terbaik Jaga Kerukunan
Tag

    Bagikan:

Berikan komentar
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.