Banda Aceh - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Aceh dan unit pelaksana teknis lainnya terus memperkuat penanganan darurat bencana banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Aceh. Penguatan ini dilakukan dengan mengerahkan sumber daya dan peralatan untuk memulihkan kondisi infrastruktur yang rusak.
Alat berat yang dikerahkan tersebar di beberapa lokasi terdampak parah, termasuk di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Bireuen. Prioritas utama operasi adalah membuka jalan nasional dan provinsi yang tertutup material longsor agar distribusi bantuan dan evakuasi korban dapat berjalan lancar. Tim di lapangan bekerja secara bergiliran untuk memaksimalkan waktu operasi.
Selain membuka akses jalan, alat berat juga difokuskan untuk membersihkan lumpur dan material banjir yang menggenangi permukiman warga. Ketebalan lumpur di beberapa lokasi mencapai lebih dari satu meter, sehingga membutuhkan effort besar untuk pembersihannya. Warga yang terdampak juga turut serta dalam proses pembersihan lingkungan.
Kementerian PUPR juga mendistribusikan bantuan logistik seperti air bersih dan peralatan kebersihan ke lokasi pengungsian. Bantuan ini penting untuk mencegah munculnya wabah penyakit pasca banjir. Tim kesehatan juga dikerahkan untuk memantau kondisi sanitasi di lokasi pengungsian.
Koordinasi dengan pemerintah daerah setempat terus dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan terintegrasi. Pemetaan titik-titik rawan banjir dan longsor diperbarui untuk mengantisipasi potensi bencana susulan. Sistem peringatan dini juga diaktifkan untuk meminimalisir korban jiwa.
Pemulihan infrastruktur vital seperti jembatan dan tanggul menjadi prioritas berikutnya. Tim teknis telah melakukan assessment kerusakan dan menyusun rencana rehabilitasi. Beberapa jembatan darurat akan dibangun untuk menghubungkan wilayah yang terisolasi sementara waktu.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam pernyataannya menegaskan komitmen kementerian untuk terus mendampingi proses pemulihan hingga tuntas. Tahap tanggap darurat difokuskan pada penyelamatan jiwa dan pemulihan akses, yang akan dilanjutkan dengan fase rekonstruksi dan rehabilitasi infrastruktur.
Dengan langkah-langkah terpadu ini, diharapkan kondisi masyarakat Aceh yang terdampak bencana dapat segera pulih. Pembelajaran dari bencana ini juga akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur dan sistem peringatan dini di masa depan.