Jakarta - Sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) terus menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ketiga sektor ini konsisten mencatatkan pertumbuhan positif dan siap menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju tahun 2026. Performa ini didukung oleh peningkatan investasi, inovasi produk, dan ekspansi pasar ekspor.
Kinerja sektor IKFT tercatat mampu tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal pertama 2024, industri farmasi tumbuh sebesar 8,21%, diikuti industri kimia sebesar 6,45%, dan industri tekstil serta produk tekstil sebesar 5,38%. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11%.
Faktor pendorong utama pertumbuhan berasal dari peningkatan daya saing produk di pasar global. Nilai ekspor produk IKFT selama periode Januari-April 2024 mencapai US$ 12,8 miliar, dengan kontribusi terbesar dari produk kimia sebesar US$ 6,2 miliar. Pasar ekspor terus diversifikasi ke negara-negara non-tradisional.
Investasi di sektor IKFT juga menunjukkan tren positif. Realisasi investasi PMDN dan PMA pada triwulan I 2024 mencapai Rp 28,4 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 350 ribu orang. Investor terus mempercayai iklim investasi Indonesia di sektor industri.
Inovasi menjadi kunci keberhasilan sektor IKFT dalam menghadapi persaingan global. Perusahaan-perusahaan di sektor ini aktif mengembangkan produk bernilai tambah tinggi, seperti bahan baku farmasi, chemical specialty, dan tekstil fungsional. Adopsi teknologi Industri 4.0 juga semakin masif.
Dukungan pemerintah melalui berbagai kebijakan strategis terus diperkuat. Kebijakan hilirisasi, kemudahan perizinan berusaha, dan insentif fiskal menjadi faktor penarik bagi pengembangan industri IKFT. Program peningkatan produktivitas dan efisiensi juga terus digulirkan.
Proyeksi menuju 2026 menunjukkan potensi yang semakin cerah. Dengan asumsi pertumbuhan rata-rata 7% per tahun, kontribusi sektor IKFT terhadap PDB industri manufaktur diproyeksikan mencapai 28% pada 2026. Target ini sejalan dengan peta jalan Making Indonesia 4.0.
Ketangguhan sektor IKFT diharapkan dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Dengan fondasi yang kuat dan strategi yang tepat, sektor ini siap memimpin transformasi menuju Indonesia Emas 2045.